Tuesday, December 22, 2009

CIRI-CIRI ORANG YANG BER'AKAL

SURAH AR-RA'D

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ (١٩) الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَلاَ يِنقُضُونَ الْمِيثَاقَ (٢٠) وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الحِسَابِ (٢١) وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (٢٢) جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ (٢٣) سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (٢٤)

(Surah Ar-Ra’d: 19-24)

Terjemahan:

(19) Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.

(20) (iaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,

(21) dan orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

(22) Dan orang-orang yang sabar karena mencari keredhaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezkinya yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

(23) (iaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak-anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu,

(24) (sambil mengucapkan): “Salaamun ‘Alaikum Bimaa Shabartum”, (keselamatan untukmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Kesimpulan:

Ciri-ciri orang yang berakal:

1. Menepati janji dengan Allah dan tidak memungkirinya.

2. Senantiasa memelihara silaturrahim.

3. Senantiasa takut kepada Allah dan hisab yang buruk pada Hari Kiamat.

4. Bersifat sabar dan senantiasa mengharap keredhaan Allah.

5. Mereka mendirikan salat.

6. Mereka menafkahkan sebagian hartanya secara sembunyi atau terang-terangan.

BAGAIMANA UNTUK MENGATASI KELUH KESAHH MENURUT ISLAM


AL-MA'ARIJ


إِنَّ الاِْنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (٢٢) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (٢٣)وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ (٢٤) لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (٢٥) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (٢٦) وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (٢٧) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (٢٨) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٢٩) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٣٠) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (٣١) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (٣٢) وَالَّذِينَ هُم بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (٣٣) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (٣٤) أُوْلَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (٣٥)

(Al-Ma’aarij 70:19-35)

Terjemahan:

(19) Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (lokek).

(20) Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.

(21) Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

(22) Kecuali orang yang mengerjakan salat.1

(23) Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya.

(24) Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bahagian tertentu.2

(25) Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mahu meminta).

(26) Dan orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan.3

(27) Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.4

(28) Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).

(29) Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.5

(30) Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.

(31) Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

(32) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat6 (yang dipikulnya) dan janjinya.

(33) Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.7

(34) Dan orang-orang yang memelihara salatnya.8

(35) Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.

TAFSIRANNYA:

(19)Dalam ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa fitrah semulajadi setiap manusia adalah dijadikanNya dalam keadaan Halu’ (هَلوْع) iaitu keluh kesah atau serba salah. Syekh Muhammad Bin Thahir ketika ditanya tentang makna Halu’, beliau menjawab: Allah telah menafsirkan makna Halu’ pada ayat sesudahnya, Dan tidak ada tafsir yang paling jelas daripada tafsiran Allah sendiri.

(20)Halu’ ialah seperti sifat seseorang yang apabila ia ditimpa kesusahan seperti kemiskinan, sakit, luput daripadanya seseorang yang dia sayangi samada harta, anak, kekasih, keluarga dan lain-lain maka ia tidak redha dan tidak sabar menghadapinya.

(21)Dan sebaliknya, apabila dia mendapat kesenangan, kemewahan hidup, maka dia tidak bersyukur kepada Allah di atas nikmat-nikmat itu. Dia bakhil, kikir dan enggan mengeluarkan zakat, bersadakah dan menolong orang-orang yang berhajat.

Jadi (هَلُوْعٌ) maknanya: Cepat berduka ketika ditimpa musibah dan cepat enggan ketika mendapat kesenangan. Itu sebabnya orang Arab jika mengatakan (نَاقَة هَلوُعٌ ) artinya onta yang cepat jalannya.

Sifat manusia seperti ini dinyatakan juga olih Allah dalam surah Al-‘Aadiyat:

(إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ) artinya: Sesungguhya manusia itu sangat ingkar terhadap Tuhannya. Ulama Tafsir mengartikan: (كَنُودٌ) dengan makna suka menghitung-hitung musibah yang menimpanya dan melupakan nikmat yang diterimanya daripada Allah. Jadi Halu’ pada ayat di atas hampir sama dengan makna Kanuud dalam Al-‘Aadiyat.

Tabiat semulajadi manusia adalah bersifat jelek kecuali orang-orang yang mendapat taufiq dan perlindungan Allah. Allah berikan dia bimbingan kepada kebaikan dan Allah permudahkan baginya untuk melakukan sebab-sebabnya. Dan di antara sebab-sebab yang bolih menghindarkan manusia daripada sifat Halu’ (kelus kesah dan kikir) di atasi sebagaimana berikut:

(22)Orang-orang yang mengerjakan salat.

Ini tidak berarti asalkan salat tetapi mestilah salat yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana dalam ayat berikutnya.

(23)Iaitu orang yang tetap (دَائِمٌ) mengerjakan salatnya.

Ulama tafsir menafsirkannya dengan makna: Salat yang sempurna rukunnya, syaratnya, adab-adabnya. Tetap melakukan pada waktunya, menjaga thuma’ninah dan khusyu’. Jadi tidak termasuk ke dalam jenis ini salat itu orang-orang yang terkadang tidak ataupun melakukannya dengan cara yang tidak sempurna.

(24)Orang-orang yang tahu bahwa di dalam harta miliknya terdapat hak-hak orang lain yang berhak menerimanya iaitu orang miskin, apakah dalam bentuk zakat atau sadakah. Dan Allah menjelaskan pada ayat berikutnya bahwa orang miskin itu ada dua jenis, iaitu:

(25)Orang-orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak meminta.

Ini seolah-olah memberi isyarat bahwa orang yang wajib mengeluarkan zakat tidak semestinya hanya menunggu fakir miskin datang ke rumahnya untuk meminta zakatnya, tetapi dialah yang mesti mencari orang miskin untuk menyampaikan zakat dan sadakahnya. Dan ini pulalah rahsianya mengapa perintah zakat digunakan dengan istilah

(وَآتُواْ الزَّكَاةَ) artinya: Datangilah zakat.

(26)Orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan;

Mereka meyakini apa yang diberitakan olih Allah dan RasulNya tentang pembalasan, kebangkitan sehingga mendorong mereka membuat persiapan untuk bekal akhirat. Menurut Said Qhutb dalam tafsirnya ‘fii Zilaal Al-Quran’: Sifat inilah yang paling menonjol dan berperanan dibandingkan dengan sifat daripada sifat Halu’, sebab dengan keyakinan yang mantap akan adanya hari pembalasan membuat seseorang akan dapat tabah jika ditimpa musibah dan segera bersyukur jika mendapat nikmat.

(27)Orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Mereka adalah orang yang merasa gerun meninggalkan kewajiban dan gerun melakukan larangan Allah. Jadi orang yang sentiasa takut terhadap taklif (bebanan) dari Allah mereka akan waspada dan berhati-hati selalu dari mengabaikan tanggungjawabnya terhadap Allah SWT. Mengapa orang beriman sentiasa takut akan azab Allah? Allah menjelaskan sebab utamanya pada ayat berikut:

(28)Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).

Setiap mukmin tidak bolih merasa aman dari azab Allah. Apakah mereka mengira bahwa amalan mereka bolih menjamin mereka terhindar dari azab Allah? Bagaimana kita bolih merasa aman dengan amalan yang kita buat, sedangkan amalan kita belum tentu diterima olih Allah? Nabi (sallallahu alayhi wasalam) pernah bersabda:

Tidaklah sekali-kali amalan seseorang yang memasukkannya ke dalam syorga. Sahabat bertanya: Apakah tuan juga demikian? Jawab Nabi: Saya juga demikian, dan yang memasukkan saya ke dalam syorga adalah berkat rahmat Allah kepadaku.

Itulah sebabnya salafussalih (orang-orang salih masa silam) sangat taat terhadap perintah Allah dan memperbanyakkan ibadah karena mereka sangat takut kepada azab Allah.Keadaan ini tergambar jelas di dalam ungkapan mereka, antara lain:

(ليْتَ اُمِى لَمْ تَلِدْنِى) artinya: Alangkah baiknya kalau ibu tidak melahirkan daku. (لَيْتَنِى شَجَرَةٌ تُعْضَدُ) artinya: Alangkah baiknya kalau aku ini menjadi pohon kayu yang dipotong.

(29)Orang-orang yang menjaga kemaluannya.

Orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya iaitu dengan menjauhkan dirinya daripada perzinaan, homoseks, lesbianisme, onani dan lain-lain cara yang tidak diredhai. Dan Allah membolihkan pemuasan nafsu seks sebagaimana tertera dalam ayat berikut:

(30)Kecuali terhadap-isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.

(31)Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Secara tersirat ayat ini mengharamkan nikah mut’ah karena wanita yang dikahwini secara mut’ah bukan isteri yang sah dan bukan pula budak yang dimiliki.

(32)Dan orang-orang yang memelihara amanah dan menepati janji.

Amanah dan janji yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah mencakupi semua janji dan amanah, apakah antara hamba dengan Allah seperti semua bentuk taklif (bebanan agama) ataupun dengan sesama manusia seperti harta, rahsia dan lain-lain.

(33)Orang-orang yang memberikan kesaksiannya.

Maksudnya mereka memberi penyaksian yang sebenarnya tanpa menambah atau menguranginya apalagi memalsukannya walaupun terhadap kaum kerabat sendiri.

Ada pula yang mengartikan penyaksian di sini dengan mereka yang melaksanakan tuntutan dikandung dua kalimah syahadat.

(34)Orang-orang yang memelihara salat mereka.

Sifat pertama orang yang akan terhindar dari sifat Halu’ dalam ayat–ayat ini diawali dengan salat dan diakhiri dengan salat, ini menunjukkan bahwa salat sangat penting untuk tujuan tersebut.

Dan Allah berjanji selain menghindarkan orang yang memiliki sifat-sifat di atas daripada sifat Halu’ juga akan memasukkan mereka ke dalam syorga dan meeka dimuliakan di dalamnya.

(35)Mereka itu (kekal) di syorga lagi dimuliakan.

BERPERANGLAH DIJALAN ALLAH



Al-Nisa’ 4:71-76

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ خُذُواْ حِذْرَكُمْ فَانفِرُواْ ثُبَاتٍ أَوِ انفِرُواْ جَمِيعًا (٧١) وَإِنَّ مِنكُمْ لَمَن لَّيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُن مَّعَهُمْ شَهِيدًا (٧٢) وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ الله لَيَقُولَنَّ كَأَن لَّمْ تَكُن بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيتَنِي كُنتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا (٧٣) فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآخِرَةِ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيُقْتَلْ أَو يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (٧٤) وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَـذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا (٧٥) الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا ٧٦

Setelah Allah SWT, menyuruh kita agar beribadat hanya kepadaNya dan jangan melakukan syirik, agar menjalin hubungan baik dengan kaum kerabat, jiran tetangga, anak yatim dan fakir miskin, hukum-hakam perkahwinan dan pembahagian harta pusaka, maka pada ayat berikut ini Allah menjelaskan pula tentang hukum-hakam peperangan dan bagaimana seharusnya kita memelihara agama kita dari ancaman musuh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ خُذُواْ حِذْرَكُمْ فَانفِرُواْ ثُبَاتٍ أَوِ انفِرُواْ جَمِيعًا

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama (71)

Di dalam ayat ini Allah menyuruh kita agar sentiasa berwaspada dan bersiap siaga dari kejahatan musuh. Umat Islam seharusnya memiliki kekuatan sendiri, yang walaupun tidak lebih kuat tetapi minima setanding dengan kekuatan mereka. Hakikat ini tersirat di dalam perintah Abu Bakar As-Siddiq kepada Khalid Bin Walid (ra) di dalam perang Al-Yamamah1:

حاربهم بمثل ما يحاربونك به، السّيف بالسّيف والرَّمح بالرَّمح

Perangilah mereka dengan senjata yang mereka pergunakan untuk memerangi kamu, perang dengan pedang, panah dengan panah.

Sikap berwaspada terhadap tipu muslihat musuh dan bersiap siaga dari kejahatan mereka tidak bercanggah dengan keyakinan kita terhadap Qadha’ dan Qadar serta konsep tawakkal, juga tidak bertentangan dengan hadis daripada ‘Aisyah r.a. (لا يغنى حذرٌ من قدر):”Kewaspadaan tidak akan dapat menolak taqdir” (Riwayat Al-Hakim). Memang tepat sekali ungkapan ini, kerana kewaspadaan hanyalah usaha kita mengambil sebab, bukanlah penentu dan pemutus tetapi kita juga mesti yakin bahawa bersikap waspada adalah dituntut oleh syara’ dan ia termasuk iman kepada Taqdir. Malahan Allah SWT menyuruh umat Islam membuat persiapan menghadapi musuh:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.

[Al-Anfal 8:60]

Adapun maksud ungkapan: ”…dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama” mengandungi isyarat tentang taktik dan strategik yang perlu diambil ketika menghadapi musuh agar disesuaikan dengan keadaan dan kekuatan mereka.

وَإِنَّ مِنكُمْ لَمَن لَّيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُن مَّعَهُمْ شَهِيدًا

Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnnya Tuhan telah menganugerahkan ni’mat kepada saya kerana saya tidak ikut berperang bersama mereka”(72)

Di dalam ayat ini Allah SWT mendedahkan sikap sebahagian umat Islam yang lemah iman dan orang-orang munafikin. Golongan yang lemah iman akan berlambat-lambat ke medan pertempuran kerana sifat pengecut mereka menghadapi musuh, sedangkan golongan munaffik memang benci kepada Islam dan penganutnya, mereka tidak suka dengan kejayaan Islam, mereka bukan saja berlambat-lambat menyahut seruan melawan musuh untuk menegakkan ajaran Islam, malahan berusaha keras untuk menghalang orang Islam lainnya daripada berjuang untuk Islam.

Sikap golongan ini seperti kata pepatah “pandai menangguk ikan di air keruh”, mereka pandai mengeksploitasikan keadaan. Jika umat Islam mengalami kekalahan di dalam pertempuran melawan musuh, mereka sangat bergembira dan berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan ni’mat kepada kami kerana kami tidak ikut berperang bersama mereka”. Mereka bersyukur dan beranggap kekalahan umat Islam itu sebagai ni’mat dari Allah kerana dirinya terselamat daripada kebinasaan, padahal bagi pejuang yang gugur tersedia ganjaran yang besar di sisi Allah berkat kesabarannya.

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ الله لَيَقُولَنَّ كَأَن لَّمْ تَكُن بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيتَنِي كُنتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا

Dan sesungguhnya jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)”. (73)

Ayat ini menambah lagi keterangan tentang sikap golongan yang lemah iman dan munafik, iaitu jika umat Islam mendapat kemenangan mereka berkata: “Wahai, kiranya saya ada bersama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)”. Allah SWT mencela sikap mereka dengan sindiran halus: “seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang dengan dia”. Maksudnya: Ungkapan yang mereka ucapkan di atas, menggambarkan tidak ada sedikitpun perasaan kasih sayang di dalam dirinya terhadap saudaranya seagama dan ungkapan seperti itu tidak sepatutnya keluar dari mulut orang yang mermpunyai iman dan kasih sayang.

Malahan sikap mereka justeru sebaliknya, mereka tidak melihat kemenangan yang Allah anugerahkan kepada umat Islam sebagai ni’mat juga untuknya, dan mereka juga tidak melihat musibah yang menimpa umat Islam lain sebagai musibah ke atas dirinya. Padahal Allah SWT telah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara [al-Hujurat 49:10]

Dan Nabi (sallallahu alayhi wasalam) mengisyaratkan di dalam banyak hadisnya bahawa orang yang beriman bagaikan satu tubuh yang jika ada anggotanya yang sakit maka akan terasa sakit seluruh tubuhnya.2

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآخِرَةِ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيُقْتَلْ أَو يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (74)

Allah SWT menyuruh orang yang sanggup menjual kehidupan dunianya dan mengorbankannya demi mengharap ganjaran yang besar di akhirat, agar mereka berjuang di jalan Allah. Kemudian Allah berjanji akan memberi mereka pahala yang besar lagi kekal di akhirat nanti.

Menurut Imam Ibnu Kathir3: Setiap orang yang berjuang di jalan Allah samada ia gugur ataupun mendapat kemenangan, maka baginya ganjaran yang besar tersedia di sisi Allah. Ganjaran yang dimaksudkan itu digambarkan oleh Nabi (sallallahu alayhi wasalam) di dalam sabdanya:

وتكفَّل الله للمجاهد فى سبيله، إن توفَّاه أن يدخله الجنَّة أو يرجعه إلى مسكنه الَّذى خرج منه نائلاً ما نال من أجرِ أو غنينة

Allah memberi jaminan kepada orang yang berjuang di jalanNya, sekiranya ia gugur niscaya akan dimasukkan ke dalam syurga atau dikembalikan ke tempat ia keluar sambil memperoleh ganjaran atau harta rampasan perang

(HR Bukhari dan Muslim)

Maksud4 : (القِتَالُ فِى سَبِيْلِ الله ) : “berperang di jalan Allah” ialah seperti yang ditafsirkan oleh Nabi (sallallahu alayhi wasalam) :

( مَنْ قَتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِىَ اْلغُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ الله ) “Siapa yang berperang agar Kalimah Allah yang lebih tinggi, maka ia berjuang di jalan Allah”.

(HR Al-Jama’ah daripada Abu Musa)

وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَـذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (75)

Di dalam ayat ini Allah bertanya: Apakah sebabnya kamu enggan berjuang di jalan Allah untuk menggantikan kesyirikan dengan Tauhid dan kezaliman dengan keadilan. Ayat ini menggambarkan keadaan penduduk Mekah yang beriman telah ditindas oleh musyrikin Quraisy. Umat Islam ketika di dalam kondisi yang masih lemah.Ibnu Abbas (ra) berkata: “Saya dan ibu saya ketika itu termasuk ke dalam golongan yang lemah”.

الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan taghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah (76).

Di dalam ayat ini Allah SWT membezakan antara perjuangan orang yang beriman dengan perjuangan orang kafir. Al-Mukminun berjuang di jalan Allah iaitu untuk menunaikan perintah Allah dan mengharap keredhaanNya, sedang Al-Kafirun pula berjuang untuk mematuhi kehendak taghut. Makna “taghut” adalah syaitan. Dan bukti bahawa taghut itu adalah syaitan ialah firman Allah pada ayat yang sama: “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”.

Menurut Prof Wahbah Al-Zuhaily5: Taghut adalah syaitan dan segala yang menyamai peranannya seperti kezaliman, khuarafat, tukang tenung dan seruan agar menyembah berhala. Al-Kafirun tidak mempunyai pelindung kecuali syaitan, sedangkan pelindung Al-Mukminun adalah Allah Azza Wa Jalla. Tipu daya syaitan sangat lemah jika dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Allah.

RUJUKAN

1 Tafsir Al-Maraghy; Syeikh Ahmad Mustafa Al-Maraghy; Juz V / 87

2 Tafsir Al-Munir; Prof Wahbah Al-Zuhaily; Juz V / 152-153

3 Tafsir Al-Quran Al-‘Azim; Ibnu Kathir; Vol. 1 / 641

4 Tafsir Al-Munir; Prof Wahbah Al-Zuhaily; Juz V / 158

5 I b i d: Juz V / 1580159