Tuesday, December 22, 2009

BERDA'WAH DENGAN 'ILMU


SURAH YUSUF

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِين ١٠٨

Terjemahan:

(108) Katakanlah: “Inilah jalan (agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

(Yusof 12:108)

Mukaddimah:

Maksud ayat di atas ialah:

Katakanlah wahai Rasul: Inilah dakwah yang sedang aku jalankan, inilah jalan yang aku ingin bawakan kamu sekalian kepadanya, iaitu kepada menTauhidkan Allah dan ikhlas beribadah hanya kepadaNya, bukan kepada berhala dan bukan pula kepada selain Allah. Inilah sunnahku dan inilah perjalananku. Dan saya sungguh yakin dengan apa yang saya serukan dan dakwahkan ini, dan saya mempunyai hujjah dan bukti ke atas setiap apa yang saya katakan. Malahan ini bukan saja jalanku, tetapi juga jalan orang-orang yang mengikutiku dan beriman kepadaku.

Dari ayat di atas ada dua perkara penting yang dapat kita simpulkan:

1. Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) dan pengikutnya mestilah berdakwah atau mengajak umat manusia kepada (mentauhidkan) Allah.

2. Dalam menjalankan tugas dakwah tersebut mereka mestilah ‘alaa bashirah iaitu dengan ilmu dan hujjah yang nyata.

TAFSIRAN :

Katakanlah: “Inilah jalan (agamaku), aku mengajak (kamu) kepada Allah.

Maksudnya: Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) agar memberitahu kepada umatnya bahwa perjalanan dakwah beliau ialah mengajak manusia kepada Allah.

Kata: “Ad’uu ilal Laah” iaitu mengajak kepada Allah, memberi gambaran bahwa jurudakwah (du’aat) ada dua jenis:

Mengajak manusia (berdakwah) kepada Allah.

Mengajak manusia (berdakwah) kepada selain Allah.

Mengajak manusia atau berdakwah kepada Allah maksudnya mengajak manusia dengan ikhlas agar mentauhidkan Allah dan mentaatiNya. Dan yang menjadi ukuran dakwahnya ialah untuk menyampaikan kepada manusia kepada apa yang dikehendaki oleh Allah.

Juru dakwah yang mengajak manusia kepada Allah dengan ikhlas tidak akan mudah putus asa dan tidak akan meninggalkan kerja dakwahnya jika ia melihat manusia lari dari dakwahnya.Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda kepada Saidina Ali (ra):

فَوَاللهِ لَئِنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النِّعَمْ

Artinya: Demi Allah, sekiranya seorang yang mendapat hidayah Allah karena engkau adalah lebih baik daripada onta merah.

[HR Bukhari]

Keterangan: Onta merah adalah harta yang sangat bernilai di kalangan orang-orang Arab pada zaman silam.

Juru dakwah kepada Allah yang ikhlas tidak akan lekas marah kalau dakwahnya hanya diterima oleh segelintir manusia. Dan kalaupun ia terpaksa marah, itupun disebabkan AL-HAQ atau kebenaran yang disampaikan tidak diikuti, bukan karena dirinya tidak diikuti. Baginya sudah mencukupi walaupun yang menerima ajarannya hanya seorang saja, malahan kalau dakwahnya kepada Allah itu tidak diikuti oleh seorangpun juga sudah memadai.

Yang penting, juru dakwah mestilah berdakwah atau mengajak manusia kepada Al-Haq (Kebenaran) dan memberi peringatan kepada mereka daripada terjerumus kepada kebatilan.Supaya dengan demikian manusia dapat membedakan dengan jelas mana yang HAQ dan mana yang BATIL.

Kerja dakwah seperti ini sangat penting karena sudah menjadi tabiat manusia, jika kebenaran dan kebatilan tidak didedahkan niscaya lama-kelamaan hakekat sesuatu akan menjadi terbalik, yang haq akan dipandang sebagai batil dan yang batil pula akan dipandang sebagai haq. Inilah pengertian dakwah kepada Allah.

Adapun dakwah bukan kepada Allah, sungguh banyak cabangnya. Antara lain: berdakwah dan mengajak manusia kepada dirinya sendiri; berdakwah dengan tujuan agar orang ramai tunduk dengan kehendaknya; berdakwah agar masyarakat memandang hormat dan menyanjungnya; berdakwah dengan tujuan untuk mendapat populariti; berdakwah agar masyarakat patuh kepada ketuanya atau pemimpinnya; berdakwah agar dirinya mendapat tempat di hati pemimpin tertentu dan lain-lain contoh lagi.

Oleh itu, juru dakwah jenis ini jika mendapati orang yang didakwahnya tidak melaksanakan apa yang disuruhnya, dia akan lekas marah dan putus asa.

Aku dan pengikut-pengikutku mengajak kamu dengan hujjah yang nyata.

Maksudnya: Berdakwah atau mengajak kamu (umat) kepada Allah bukan hanya sunnah atau perjalananku, tetapi juga perjalanan pengikut-pengikutku (muslimun). Dan ciri-ciri khas dakwahku dan dakwah pengikut-pengikutku kepada Allah adalah berasaskan hujjah yang nyata (ilmu), bukan berasaskan taklid buta atau khurafat yang tidak berasaskan hujjah yang kokoh.

Yang dimaksudkan dengan “alaa bashiirah” dalam ayat di atas ialah berasaskan ILMU. Jadi dakwaan kepada Allah mestilah berasaskan IKHLAS dan ILMU. Faktor yang paling banyak menentukan kegagalan suatu dakwah ialah karena ketiadaan ikhlas (‘adamul ikhlas) dan ketiadaan ilmu (‘adamul ‘ilmi).

Dan yang dimaksudkan dengan ILMU di sini bukan terbatas hanya kepada ilmu-ilmu syara’ (ilmu agama) tetapi termasuk juga ilmu tentang keadaan orang yang akan didakwah, uslub dakwah (methodologi), psykologi (ilmu kejiwaan), sosiologi (ilmu kemasyarakatan) dan lain-lain lagi.

Atas sebab inilah maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda kepada Mu’az Bin Jabal ketika beliau akan diutus ke Yaman:

إنَّكَ تُأْتِيْ قَوْمًا أهْلَ كِتَاب

Artinya: …sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum yakni Ahli Kitab.

Jadi faktor utama untuk kejayaan suatu dakwah, selain juru dakwah mestilah memiliki selok-belok ilmu syara’ juga dia mestilah mempunyai ilmu yang berkaitan dengan orang yang menjadi sasaran dakwahnya. Pendekatannya tidak sama antara seorang individu dengan individu yang lain atau antara suatu puak dengan puak yang lain.

Ada manusia yang didekati dengan cara lemah-lembut, ada yang sesuai didekati dengan nasehat, dan ada pula yang sesuai didekati dengan cara diskusi. Oleh itu dalam kitab sirah Rasul kita dapati Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) memperbagai cara beliau dalam berdakwah, tidak hanya dalam satu bentuk atau cara. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah SWT.

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

(An-Nahl 16:125)

Oleh itu, orang yang jahil tidak layak untuk berdakwah.Apakah jahil dalam selok-belok ilmu syara’ ataupun jahil terhadap kondisi (keadaan) orang yang akan didakwahnya. Karena dakwah yang dilakukan oleh orang jahil biasanya keburukannya lebih besar daripada kebaikannya.

Kesimpulan:

1. Umat Muhammad adalah Umat Dakwah. Mereka hendaklah berdakwah dan menyeru umat ke jalan Allah sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

2. “Berdakwah kepada Allah” maksudnya mangajak manusia agar mematuhi Allah atau membawa mereka kepada apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

3. Juru dakwah yang berdakwah kepada Allah tidak lekas putus asa dan tidak lekas marah jika dakwahnya tidak mendapat sambutan yang menggalakkan. Yang penting baginya ialah Al-Haq (kebenaran) mestilah disampaikan.

4. Berdakwah kepada Allah mestilah ikhlas dan berilmu. Dan ilmu yang dimaksudkan untuk kejayaan suatu dakwah mencakupi ilmu syara’ dan ilmu tentang keadaan orang yang akan didakwah. Tanpa ilmu-ilmu tersebut tujuan dakwah tidak mungkin akan tercapai dengan baik.


BEBERAPA TANDA ORANG YANG BERTAQWA


وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥) أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (١٣٦)

TERJEMAHAN:

(133) Dan bersegeralah kamu kepada ampunan daripada Tuhanmu dan kepada surga yang lebarnya selebar langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

(134) (iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik waktu lapang maupun waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (ihsan).

(135) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

(136) Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

TAFSIRAN:

Ayat (133):

Maksudnya: Bersegeralah kamu beramal yang bolih menyampaikan kamu kepada pengampunan dosa-dosamu dan kemasukan kamu ke dalam surga yang keluasannya luar biasa yang disediakan Allah untuk orang-orang yang bertaqwa.

Dalam ayat di atas Allah menyebut bahwa panjang lebar surga selebar langit dan bumi. Ini berarti panjangnya sudah pasti lebih daripada antara langit dan bumi. Ayat ini juga menunjukkan bahwa surga sudah diciptakan olih Allah sekarang, dan dia berada di luar alam ini karena dia lebih besar daripadanya. Dan tidak mungkin alam ini dapat menampungnya.

Surga yang sehebat itu, disediakan olih Allah untuk orang-orang yang bertaqwa. Siapakah mereka? Di bawah ini Allah menyenaraikan beberapa sifat orang-orang yang bertaqwa:

1. Orang-orang menafkahkan (hartanya) samada pada waktu senang ataupun waktu senang. Allah SWT menjadikan sifat suka memberi nafkah sebagai sifat utama orang yang bertaqwa karena harta adalah sesuatu yang sangat dicintai olih manusia. Firman Allah (maksudnya):

"Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat cinta kepada harta". (al-‘Adiyat 8), dalam jihad; harta disebut dahulu daripada diri, dan tentang fitnah; harta disebut mendahului anak-anak dan sebagainya.

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (at-Thalaq 7).

Sabda Rasul (sallallahu alayhi wasalam): Hidarkan dirimu dari neraka walaupun dengan secebis korma, dan berikan pengemis walaupun dengan kerak nasimu.

2. Orang yang dapat menahan amarahnya.

Mereka adalah orang-orang yang dapat mengawal emosi jika sedang marah. Mereka tidak memperturutkan perasaan marah sehingga mengambil tindakan terhadap orang yang menyebabkan kemarahan ataupun membalas dendam, walaupun sebenarnya mereka mampu berbuat demikian. Mereka inilah sebenarnya orang-orang yang kuat, sabda Rasul (sallallahu alayhi wasalam):

Maksudnya: Bukanlah orang yang gagah itu orang yang kuat bergulat, tetapi dia adalah orang yang sanggup mengawal perasaannya ketika dia sedang marah. (HR Imam Ahmad).

3. Orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain. Sangat sedikit orang yang bolih mencapai derjat ini. Derjat ini lebih tinggi daripada sekedar menahan perasaan daripada marah. Sebab terkadang-kadang orang dapat menahan perasaan marah tetapi kemudian muncul sifat hasad, dengki dan dendam. Ini berbeda dengan sifat pemaaf. Olih sebab itu sifat ini sangat istimewa ganjarannya, sebagaimana sabda Nabi:

Maksudnya: Barangsiapa yang ingin agar dirinya dimuliakan, dan derjatnya ditinggikan, maka hendaklah dia memaafkan orang yang menganiayanya, dan memberi kepada orang yang tidak suka memberinya, dan menghubungi sillaturrahmi dengan orang yang memutuskannya. (HR Al-Hakim dari Ubay Bin Ka’aab).

4. Orang yang berbuat Ihsan.

Berbuat ihsan (kebaikan) kepada orang lain ada beberapa bentuk, antaranya:

a. Memberi manfaat kepada orang lain. Dan inilah yang dimaksudkan olih ayat (mereka menafkahkan harta mereka samada waktu lapang atau sempit). Dan termasuk juga dalam hal ini: menafkahkan ilmu dengan mengajar orang-orang yang jahil dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang sesat, dan juga termasuk menafkahkan harta kepada jalan kebaikan dan ibadat. Sabda Nabi:

Maksudnya: Orang yang pemurah adalah dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh daripada neraka. Sedangkan orang yang bakhil adalah jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.

b. Menjauhkan keburukan daripada orang lain. Samada di dunia ataupun di akhirat. Di dunia seperti tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ini antara lain yang dimaksudkan (Dan mereka menahan amarah ketika sedang marah). Dan Nabi bersabda:

Maksudnya: Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya sedangkan dia mampu melampiaskan kemarahannya, niscaya Allah akan penuhkan jiwanya dengan ketenteraman dan keimanan.

Adapun di akhirat, seperti memaafkan kesalahan orang lain, dan inilah maksud ayat (dan mereka memaafkan kesalahn orang lain).

Jadi ayat di atas mencakupi kedua-dua jenis ihsan tersebut.

5. Orang yang melakukan dosa, apakah melibatkan orang lain seperti mengumpat ataupun terbatas pada dirinya sendiri seperti minum arak, kemudia dia ingat janji dan ancaman serta keagungan Allah. Lalu diapun memohon keampunan dan rahmatNya. Dia sungguh yakin bahwa tidak ada kuasa yang dapat memberi ampunan kecuali hanya Allah. Allah bolih berbuat apa yang Dia kehendaki sesuai dengan ilmu dan kebijaksanaanNya.

(Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?) – Ayat ini disebut ditengah-tengah, sebagai membenarkan perbuatan orang-orang yang bertobat itu, dan menghibur hati mereka, serta sebagai suatu berita gembira bagi mereka tentang betapa luasnya rahmat Allah dan keampunanNya. Orang-orang yang bertobat mestilah tahu bahwa mereka tidak ada tempat untuk mengadu kecuali kepada Allah Yang Maha Mulia. Dan diantara bukti kemuliaan Allah ialah bahwa orang-orang yang bertobat disisiNya adalah seperti orang yang tidak berdosa. Sebagaimana juga faedah ayat ini ialah untuk mendorong orang yang bersalah supaya segera bertobat, dan mengingatkan mereka supaya jangan berputus asa.

(Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui)

Sabda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam):

لا كبيرة مع الاستغفار ولا صغيرة مع الإصرار

"Tiada dosa besar bersama istighfar, dan tiada dosa kecil bersama ishraar (berterusan melakukan dosa)".

Maksud Nabi: Barangsiapa yang berterusan melakukan dosa kecil maka dosanya itu bukan kecil lagi di sisi Allah tetapi berobah menjadi dosa-dosa besar.

(Sedangkan mereka mengetahui) – maksudnya mereka mengetahui akan keburukan perbuatan itu, dan dia dilarang, dan Allah memberi ancaman ke atas orang yang melakukannya.

Dan faedah ayat ini disebut di sini seolah-olah ingin menyatakan bahwa jika seseorang tidak tahu tentang keburukan perbuatan yang dilakukannya maka dia dimaafkan.

Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa orang-orang yang bertaqwa tidak akan meneruskan perbuatan dosa, besar ataupun kecil, ini disebabkan karena ingat mereka kepada Allah akan menghalang mereka daripada berkekalan dalam dosa.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas akan aman daripada siksaan Allah, dan bagi mereka tersedia ganjaran yang besar iaitu surga.

Sungguh beruntung mereka yang beramal, apakah amal badan seperti menafkahkan harta ataupun amal jiwa seperti ihsan.

BAHAYA PERKATAAN YANG TIDAK BERGUNA


Surah Luqman: 1 - 9

الم (1) تِلْكَ ءَايَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ(2) هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ(3) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6) وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (7) إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ(8)خَالِدِينَ فِيهَا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9))

Terjemahan:

Alif Laam Miim.

Inilah ayat ayat Al Quran yang mengandungi hikmah.

Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

(Iaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. .

Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat ayat Kami dia berpaling dengaan menyombongkan diri seolah olah dia belum mendengarnya, seakan akan ada sumbat dikedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih, bagi mereka surga surga yang penuh dengan kenikmataan.

Kekal mereka di dalamnya, sebagai janji Allah yang benar Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsiran Ayat:

Alif Laam Miim ( Hanya Allah yang mengetahui maksudnya ) Inilah ayat ayat Al Quran yang mengandungi hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang berbuat kebaikan.

Maksudnya: Inilah ayat ayat Al Quran yang menjadi pedoman bagi orang-orang yang baik dalam beramal dan mengikuti syariat (ajaran) yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan berpandukannya mereka akan terhindar daripada segala bentuk penyelewengan dan kesesatan.

(Iaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Maksudnya: Orang-orang yang berbuat kebaikan itu ialah orang-orang yang mendirikan shalat dengan sempurna sebagaimana cara dan waktunya yang telah diperjelaskan oleh Rasulullah SAW. mereka mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan mereka sungguh yakin akan adanya hisab (perhitungan amalan) pada Hari Akhirat nanti. Mereka sangat mengharap ganjaran amalan dari sisi Allah pada hari itu. Oleh sebab itu ketika di dunia ini mereka tidak riak dalam beramal dan tidak pula mengharap balasaan manusia dan sanjungannya.

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Maksudnya: Sesungguhnya orang-orang yang memiliki sifat sifat diatas iaitu menjadikan Al Quran sebagaai pedoman hidupnya, beramal shalih seperti mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat sebagaimana syari'at yang telah ditetapkan oleh Rasul SAW., dan mereka benar benar yakin akan adanya Hari Akhirat sehingga mendorong mereka untuk beramal dengan ikhlas, bukan kerana riak atau mengharapkan pujian dan sanjungan manusia. Merekalah orang-orang yang berada dalam bimbingan Allah, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan merekalah orang yang mendapat kejayaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Sebab Turun Ayat:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa ayat diatas diturunkan kerana An Nadhr Ibn Al Harits membeli seorang penyanyi wanita (mughanniah). Setiap dia mendengar ada orang yang suka kepada Islam (Muhammad SAW), pasti dia bawa mughanniah itu untuk menghibur orang tersebut. An Nadhr berkata: Ini adalah lebih baik daripada apa yang dibawa oleh Muhammad; ini lebih baik dari shalat, zakat dan jihad.

Dan diriwayatkan pula oleh Muqatil bahawa An Nadhr Ibn Al Harits pergi berdagang ke Parsi, lalu dibelinya kitab-kitab 'ajam (asing). Diceritakannya kandungan kitab itu pada orang-orang Quraisy, sambil berkata: Muhammad menceritakan kepada kamu cerita 'Ad dan Tsamud, dan aku pula menceritakan kepada kamu kisah tentang Rustam, Isfindiyar dan Kisra Kisra. An Nadhr dapat mempengaruhi orang-orang Quraiy dengan ceritanya dan akhirnya mereka meninggalkan mendengar Al Quran.

Maksud Ayat Diatas:

Sebahagian manusia ada orang yang bekerja untuk melalaikan orang lain daripada mendengar perkataan perkataan yang berguna untuk agamanya. Lalu dia datangkan cerita cerita khurafat, dongeng, humor dan kata kata kosong. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh An Nadhr Ibn Al Harits diatas. Dan tujuannya berbuat demikian tidak lain kecuali untuk menyesatkan dan menghalang manusia daripada agama Allah dan membaca kitab-Nya Al Quran serta mereka mempersenda dan memperolok oloknya.

Dari Nafi' RA, katanya: Aku pernah bersama Abdullah Ibn Omar di suatu jalan, dia mendengar suara nyanyian lalu disumbatnya ke dua telinganya dengan kedua telunjuknya. Dia berpaling dari jalan tersebut sambil berkata: Wahai Nafi', adakah suara itu masih kedengaran? Lalu aku menjawab: Tidak ada lagi. Maka Abdullah Ibn Omar pun membuka tutup telinganya. Kemudian beliau berkata: Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah yang pernah aku lihat. (Al Maraghy: Juz 21: 74)

Dan dari Ibnu 'Auf, bahawa Rasulullah SAW bersabda: Aku telah dilarang daripada mendengar dua suara yang bodoh lagi berdosa: Suara nyanyian dan suara ratapan.

Kesimpulan:

Para ulama sependapat tentang hukum haram ke atas nyanyian yang boleh merangsang nafsu birahi dan ke-gila gilaan (heavy rock) serta dapat melekakan seseorang daripada mengingati Allah. Adapun nyanyian yang bebas daripada unsur unsur tersebut dibolehkan sedikit daripadanya pada waktu kegembiraan seperti sempena walimah (perkahwinan), Hari Raya atau sebagai pemberi semangat ketika bekerja keras. Ini sebagaimana pernah berlaku di zaman Rasulullah SAW. ketika mereka menggali parit (Khandaq). Begitu juga pukulan gendang untuk perang. Hukumnya bolih kerana pukulan tersebut dapat menaikkan semangat juang para sahabat dan menggerunkan musuh.

Ketika baginda Rasul SAW memasuki kota Madinah, beliau telah disambut dengan pukulan gendang dan nyanyian. Abu Bakar As Siddiq RA ingin menghentikan pukulan gendang dan nyanyian tersebut lalu Nabi Muhammad SAW bersabda: Biarkanlah mereka wahai Aba Bakar, sehingga orang Yahudi tahu bahawa agama kita adalah agama yang mudah.

Mereka itu akan memperolehi azab yang menghinakan:

Maksudnya: Ditetapkan bagi mereka azab dan kehinaan pada Hari Kiamat. Ini disebabkan kerana mereka menghina kebenaran dengan usaha usaha yang batil. Lalu mereka dibalasi dengan penghinaan pada Hari Pembalasan dihadapan khalayak ramai.

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkaan diri seolah olah dia belum pernah mendengarnya, seakan akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Maksudnya: Jika dibacakan ayat ayat Al Quran kepada orang yang berusaha menyesatkan umat dari jalan Allah dengan Lahwa al Hadith (kitab khurafat atau nyanyian) nescaya mereka enggan mendengarnya, berpaling dengan sombong, seolah olah mereka belum pernah mendengarnya, seakan akan ada sumbat di kedua telinganya. Keadaan mereka sama seperti kandungan firman Allah:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى

Katakanlah: "A1 Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka".

(Fushshilat: 44)

Dan akibat kesombongan itu maka diakhirat nanti mereka akan diazab dengan siksaan yang amat pedih.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih, bagi mereka surga surga yang penuh dengan kenikmataan.

Maksudnya: Adapun orang-orang yang beriman dengan Allah dan membenarkan para rasul dan melakukan amal amal salih, mereka melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan mereka sesuai dengan panduan yang dibawa oleh rasul rasul-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya-maka bagi mereka surga surga yang penuh dengan bermacam kelezatan yang luar biasa, samada dari segi makanan, minuman, pakaian, kenderaan dan lain lain.

Mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maksudnya: Mereka di dalam kenikmatan yang abadi dan tidak akan berakhir. Ini adalah janji Allah. Dan Allah SWT. tidak pernah mungkir janji. Dia Maha Gagah Perkasa menyiksa orang-orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu (syirik). Dan Dia Maha Bijaksana dalam mengatur urusan makhluk-Nya.